Thursday, April 22, 2010

Collaboration Herbs and Chemotherapy

Collaboration Herbs and Chemotherapy

Kompas - Monday, April 19

[Collaboration Herbs and Chemotherapy] Collaboration Herbs and Chemotherapy

Many surgeons consider tumors combination therapy with standard therapy experienced in conventional combat cancer has no role at all, even the potential to affect the performance of anti-cancer drug, its tail out put to deteriorate.

The presumption is rationally related to the proliferation of herbal-based alternative treatment without going through scientific clinical trials. The rise of herbal products which can not be accounted for therapy and potential side effects does not mean all natural products redundant. In fact, many plants that save tremendous therapeutic potential when dug through scientific research.

Call it-giver flavonoid pigment plants, which contained extensive in plants and fruits. Flavonoids are also protectors against microbial and insect attack. Broad dissemination of flavonoids, varieties, and low toxicity indicates that we can consume large amounts of flavonoids without worrying adversely affect health.

Flavonoids have a big role in our body as a natural biological response modifier. Many studies have shown the role of flavonoids to modify the body's reaction to the disease. Flavonoids can reduce inflammation (inflammation), controlling blood sugar levels, improve immune response against cancer, and protection against heart disease.

Levels and types of flavonoids vary in each type of plant. The combination and quantity of diverse flavonoids can be used to treat various types of diseases.

With scientific research, we can understand and get information to modify the mechanism of cellular and metabolic signals, understanding the dose and combination therapy best for certain medications.

Inflammation

Cancer is an inflammatory disease. When the body produces inflammation as a reaction to injury or infection, will be in production substrate that can also affect the growth of cancer.

If there is chronic inflammation, such as ulcers caused by bacteria in the stomach, the consequences are not only trigger cancer, but also triggers its growth.

Flavonoids play a role in the fight against cancer as: anti-inflammatory (anti-inflammatory), anti-cancer, to stimulate apoptosis (programmed cell death), anti-metastasis (the spread of anti-cancer), anti-angiogenesis (anti-new blood vessel growth), increase the employment of chemotherapy, and lower toxicity chemotherapy

With chemotherapy, solid cancer cure rate (solid) such as breast cancer, ovarian, kidney, prostate, bone, and brain in adults 2.3 percent. The low numbers prompted resistance to chemotherapy drugs (multi-drug resistance). ABCG2/BCRP1 membrane transport proteins such as intracellular concentration of chemotherapeutic ironotecan and doxorubicin.

ABCG2 protein is found in large amounts in cancer stem cells. Proteins that trigger cancer cells to stem cells to initiate tumor growth after chemotherapy. Inhibit ABCG2 substrates enhance stem cell kemosensitivitas cancer cells to chemotherapy and improve its response.

Various types of flavonoids inhibit ABCG2. Collaboration variety of flavonoids such as apigenin, luteolin, quercetin, genistein, and kaempferol inhibited the growth of cancer cells in ovarian cancer in a study in vitro (80 percent cure rate). Flavonoids are potentially inhibit the VEGF (Vascular Endothelial Growth Factor)-triggered angiogenesis factors (growth of new blood vessels to cancer). Potential of green tea inhibit MMP2 (Matrix Metalloprotein 2) and MMP9 (Matrix Metalloprotein 9).

To obtain better treatment outcomes, the combination of flavonoids, green tea extract pure, and the chemotherapy of choice that can be tried. Natural therapy and chemotherapy combination gives better results because it works on different lines so it can kill at the same time not giving the opportunity to grow the return of cancer cells.

Chemotherapy can kill cancer cells, but are powerless against the immunity to the drugs, nor has the potential to prevent the spread of cancer to other organs, including the growth of new blood vessels as a supplier of food for the growth of cancer cells.

To boost the cure rate, based on the best treatment option suppresses the growth of new blood vessels (angiogenesis), mitosis (cell division), and spread to other organs (metastasis).

Abu Bakr OSSYRIS collaboration with Resort to Health Medical Clinic Perth


Kolaborasi Herbal dan Kemoterapi

Kompas - Senin, 19 April


[Kolaborasi Herbal dan Kemoterapi] Kolaborasi Herbal dan Kemoterapi

Banyak ahli bedah tumor beranggapan kombinasi terapi alami dengan terapi baku konvensional dalam memerangi kanker tidak memiliki peran sama sekali, bahkan berpotensi memengaruhi kinerja obat anti kanker, buntut nya out put yang memburuk.

Anggapan tersebut rasional terkait menjamurnya pengobatan alternatif berbasis herbal tanpa melalui uji klinis yang ilmiah. Maraknya produk herbal yang tidak bisa dipertanggungjawabkan potensi terapinya dan efek samping yang ditimbulkan tidak berarti semua produk alami mubazir. Sesungguhnya banyak tanaman yang menyimpan potensi terapeutik yang luar biasa bila digali melalui penelitian ilmiah.

Sebut saja flavonoid—pemberi pigmen tumbuh-tumbuhan—yang terkandung luas dalam tumbuhan dan buah-buahan. Flavonoid juga protektor terhadap serangan mikroba dan serangga. Penyebaran flavonoid yang luas, varietas, serta toksisitas yang rendah menandakan kita dapat mengonsumsi flavonoid dalam jumlah besar tanpa khawatir berdampak buruk terhadap kesehatan.

Flavonoid memiliki peran besar dalam tubuh kita sebagai modifikator respons alami biologis. Banyak penelitian membuktikan peran flavonoid untuk memodifikasi reaksi tubuh pada penyakit. Flavonoid dapat menekan inflamasi (radang), mengontrol kadar gula darah, memperbaiki respons imun, melawan kanker, dan proteksi terhadap penyakit jantung.

Kadar dan tipe flavonoid bervariasi dalam tiap jenis tumbuhan. Kombinasi dan kuantitas flavonoid yang beragam dapat dimanfaatkan untuk mengobati berbagai jenis penyakit.

Dengan penelitian ilmiah, kita bisa memahami dan mendapat informasi mekanisme untuk me modifikasi sinyal seluler dan metabolisme, memahami dosis serta kombinasi terapi terbaik untuk pengobatan tertentu.

Inflamasi

Kanker merupakan penyakit inflamasi. Ketika tubuh memproduksi keradangan sebagai reaksi terhadap luka atau infeksi, akan di produksi substrat yang juga dapat memengaruhi tumbuhnya kanker.

Bila terjadi radang kronis seperti ulkus yang disebabkan bakteri dalam perut, konsekuensinya tidak hanya memicu terjadinya kanker, tetapi sekaligus memicu pertumbuhannya.

Flavonoid berperan dalam memerangi kanker sebagai: anti inflamasi (antiradang), anti kanker, dengan merangsang apoptosis (program kematian sel), anti metastasis (anti penyebaran kanker), anti angiogenesis (anti pertumbuhan pembuluh darah baru), meningkatkan kerja kemoterapi, dan menurunkan toksisitas kemoterapi

Dengan kemoterapi, angka kesembuhan kanker solid (padat) seperti kanker payudara, ovarium, ginjal, prostat, tulang, dan otak pada orang dewasa 2,3 persen. Rendahnya angka itu memicu resistensi terhadap obat-obat kemoterapi (multi-drug resistance). Membran transpor protein ABCG2/BCRP1 menurunkan konsentrasi kemoterapi intraseluler seperti ironotecan dan doxorubicin.

Protein ABCG2 ditemukan dalam jumlah besar dalam stem sel kanker. Protein itu memicu sel kanker stem sel untuk memulai pertumbuhan tumor pasca kemoterapi. Substrat yang menghambat ABCG2 meningkatkan kemosensitivitas sel kanker stem sel terhadap kemoterapi serta memperbaiki respons.

Berbagai jenis flavonoid menghambat ABCG2. Kolaborasi ragam flavonoid seperti apigenin, luteolin, quercetin, genistein, dan kaempferol menghambat pertumbuhan sel kanker pada kanker ovarium pada suatu studi in vitro (angka kesembuhan 80 persen). Flavonoid berpotensi menghambat VEGF (Vascular Endothelial Growth Factor)—faktor pemicu angiogenesis (tumbuhnya pembuluh darah baru pada kanker). Teh hijau berpotensi menghambat MMP2 (Matrix Metalloprotein 2) dan MMP9 (Matrix Metalloprotein 9).

Untuk memperoleh capaian terapi lebih baik, kombinasi flavonoid, ekstrak murni teh hijau, dan kemoterapi menjadi pilihan yang dapat dicoba. Kombinasi terapi alami dan kemoterapi memberikan hasil lebih baik karena bekerja di jalur yang berbeda sehingga dapat membunuh sekaligus tak memberi peluang tumbuh kembalinya sel kanker.

Kemoterapi dapat membunuh sel kanker, tetapi tidak berdaya terhadap terjadinya kekebalan terhadap obat, juga tidak berpotensi mencegah penyebaran kanker ke organ lain, termasuk pertumbuhan pembuluh darah baru sebagai pemasok makanan bagi pertumbuhan sel kanker.

Untuk mendongkrak angka kesembuhan, pilihan terapi sebisanya berbasis pada pengobatan yang menekan pertumbuhan pembuluh darah baru (angiogenesis), mitosis (pembelahan sel), dan penyebaran ke organ lain (metastasis).

OSSYRIS ABU BAKAR Bekerja sama dengan Resort to Health Medical Clinic Perth

Bunga pukul delapan

Flowers At Eight (Portulaca grandiflora Hook)
Family: Portulacaceae

Eight o'clock flower or portulaka is a native plant of Argentina, southern Brazil, and Uruguay. Usually grown as an ornamental plant in garden or in parks. These herbs require full sun to grow lush and colorful flowers. Portulaka can be found from the lowlands to altitudes. 1.400m asl.

Herbaceous plant trunked wet season which is growing sideways or upward, 15-30 cm long, often branched from the base, at ruasnya smooth-haired, and red or green color. Single leaf, where the spread, not stemmed, at the end of the stem crowded into the meeting, to the base of the leaves are more rare. Leaf blade thick, fleshy, succulent, needle shape, a round cylindrical, blunt tip, 1-3,5 cm long, it's green.

Flowers gathered in groups 2-8 at the end of the stem, bloom at eight o'clock in the morning and wilt late in the afternoon, the color red, dice, white, orange or yellow. Fruit an oval shape, surface hairy, 5-8 mm long. spherical grains, the number of lots, small, and light brown. Multiplied by stem cuttings or seeds that are old.

Nature and Usefulness
These herbs are bitter, cold in nature. Nutritious eliminate swelling, pain relievers (analgesics), anti-inflammatory, and remove blood clots.

Chemical content
The whole herb contains portulal. Stems and flowers contain betacyanins, beranin, and betanidin.

Used Parts
Part used as medicine is all in the form of fresh herbs.

Indication
Herb used to treat:

* Sick throat, headache,
* Inflammation of the liver (hepatitis), and
* Swelling due to knock (bruise).


How to Use
Boil the whole herb (15-30g) and a drink after a cold. Fresh herbs can also make juice, then drink.

For external use, wash fresh herbs to taste, then milled until smooth. Stick it on the affected part, such as insect bites, boils, sore, or bruised, and bandaged. Juice of a fresh herb grinder can also be used for washing and compress ekzema, burns, or scalded.

Example Usage

Sore throat
Portulaka Wash fresh herbs, then milled until smooth and squeezed until the water collected one cup. Add a little borax, and use to gargle-gargle.

Headache
Wash all fresh portulaka parts, except the roots, (+ / - 30 grams). add two cups of water Bring to the boil for 15 minutes. Once cool, strain and drink as well. If the pain over and over, do 2-3 times a day.

Hepatitis
Wash fresh herbs partulaka (30 grams), then milled until smooth. Squeeze a piece of cloth, then drinking water collected at the same time. Do it 2-3 times a day until healed.

Ekzema in infants
Wash fresh herbs to taste, then milled until smooth. Use water to compress ekzema juice.

Boils, Scabby
Rinse stems thoroughly fresh and finely milled. Put into place the sick, and then bandaged. Replace 2-3 times a day.

Note:
Pregnant women are prohibited from taking this herb decoction.


Bunga Pukul Delapan (Portulaca grandiflora Hook)
Family: Portulacaceae

Bunga Pukul Delapan atau Portulaka merupakan tanaman asli Argentina, selatan Brazil, dan Uruguay. Biasanya, ditanam sebagai tanaman hias di pekarangan atau di taman-taman. Herba ini memerlukan sinar matahari penuh agar tumbuh subur dan berbunga meriah. Portulaka dapat ditemukan dari dataran rendah sampai ketinggian. 1.400m dpl.

Tanaman semusim yang berbatang basah ini tumbuh menyamping atau naik ke atas, panjang 15-30 cm, sering bercabang mulai dari pangkalnya, pada ruasnya berambut halus, dan warnanya merah atau hijau. Daun tunggal, letak tersebar, tidak bertangkai, di ujung batang berjejal rapat, ke bagian pangkal daunnya lebih jarang. Helaian daun tebal berdaging, berair, bentuk jarum, bulat silindris, ujungnya tumpul, panjang 1-3,5 cm, warnanya hijau.

Bunga berkumpul berkelompok 2-8 di ujung batang, mekar pada pukul delapan pagi dan layu menjelang sore, warnanya merah, dadu, putih, oranye atau kuning. Buah bentuknya bulat telur, permukaan berambut, panjang 5-8 mm. biji bulat, jumlah banyak, kecil, dan berwarna cokelat muda. Perbanyak dengan stek batang atau biji yang sudah tua.

Sifat dan Khasiat
Herba ini rasanya pahit, sifatnya dingin. Berkhasiat menghilangkan bengkak, penghilang nyeri (analgesic), antiradang, dan menghilangkan bekuan darah.

Kandungan Kimia
Seluruh herba mengandung portulal. Batang dan bunga mengandung betacyanin, beranin, dan betanidin.

Bagian yang Digunakan
Bagian yang digunakan sebagai obat adalah seluruh herba dalam bentuk segar.

Indikasi
Herba digunakan untuk mengatasi :

* Sakit tenggorok,sakit kepala,
* Radang hati (hepatitis), dan
* Bengkak akibat terbentur (memar).


Cara Pemakaian
Rebus seluruh herba (15-30g) dan minum setelah dingin. Bisa juga herba segar dibuat jus, lalu minum.

Untuk pemakaian luar, cuci herba segar secukupnya, lalu giling sampai halus. Tempelkan pada bagian yang sakit, seperti gigitan serangga, bisul, koreng, atau memar, lalu balut. Air perasan gilingan herba segar juga bisa digunakan untuk mencuci dan mengompres ekzema, luka bakar, atau tersiram air panas.

Contoh Pemakaian

Sakit Tenggorokan
Cuci herba portulaka segar, lalu giling sampai halus dan peras sampai airnya terkumpul satu cangkir. Tambahkan sedikit boraks, lalu gunakan untuk kumur-kumur.

Sakit kepala
Cuci seluruh bagian portulaka segar, kecuali akar, (+/- 30 gram). tambahkan dua gelas air, rebus sampai mendidih selama 15 menit. Setelah dingin, saring dan minum sekaligus. Jika sakit berulang, lakukan 2-3 kali dalam sehari.

Hepatitis
Cuci herba partulaka segar (30 gram), lalu giling sampai halus. Peras dengan sepotong kain, lalu minum air yang terkumpul sekaligus. Lakukan 2-3 kali sehari sampai sembuh.

Ekzema pada bayi
Cuci herba segar secukupnya, lalu giling sampai halus. Gunakan air perasannya untuk mengompres ekzema.

Bisul, Koreng
Cuci tangkai segar sampai bersih, lalu giling halus. Bubuhkan ke tempat yang sakit, lalu balut. Ganti 2-3 kali dalam sehari.

Catatan:
Ibu hamil dilarang minum rebusan herba ini.

Tuesday, April 20, 2010

Garlic and a variety of properties

In modern society garlic (Allium Sativum) are believed to prevent heart attacks, blood clots, lower cholesterol, blood pressure, blood sugar levels, reduce gastric ulcer, detoxifying, the killer bacteria / fungus / parasite, binding free radicals, and more another. Is it true flavor of everyday dishes can also cure cancer?

Various studies did show the ability of garlic in preventing and treating cancers, especially those caused by harmful chemicals, such as prostate cancer, stomach, colorectal (colon and rectum), breast, liver, skin, and lungs.


Garlic Against Cancer

Active substances in garlic include vitamins A, B, C, calcium, potassium, iron, carotene, and selenium. The most dominant in the fight against cancer is allyl sulfur components such as diallyl sulfide, diallyl disulfide, diallyl trisulfide, S-allyl cysteine, S-allylmercaptocysteine, allicin, and ajoene. These substances prevent the formation and activation of nitrosamines in the body, also blocked aflatoxin, azoxymethane, benzo (a) Pyrene, and others, all of which are carcinogenic substances (triggers cancer).
In the next phase of these components may prevent mutation of the gene, inhibiting the proliferation (growth / division) of cancer cells, repair damaged DNA structures, even stimulate cancer cells to commit suicide (apoptosis).

On the other side of garlic also acts as an antioxidant, remove toxins from the body, and kill the bacteria Helicobacter pylori that can trigger a variety of stomach cancer.


How to Eat

Surely the active substances work garlic that depends on many things, such as land where they grew garlic (an effect on levels of active substances of garlic), the composition of other nutrients consumed together with him, also how to prepare and consume onion white itself. Combination with selenium, certain fatty acids (eg linoleic acid), and vitamin A, can enhance the ability of garlic to inhibit proliferation and increase apoptosis.

But we need to realize that the processing of garlic can be deadly working power that anticancer substances. One minute it is processed in the microwave, he lost as the anticancer properties of garlic. So also when heated in another cooking process. So what? Should it be swallowed garlic raw?

Apparently simple. Mash garlic (digeprak, thinly sliced, or diuleg) then let stand for 15 minutes before cooking (used as seasoning). Within 15 minutes of it happening chemical reactions that activate class of anticancer substances on the allyl sulfur, which is not damaged even if cooked. But if cooked immediately after destruction, the chemical reaction that did not happen, automatically lost anticancer properties.

If you want, garlic may also be consumed raw. But still, should be destroyed once and left for 15 minutes. So what if the onions will be presented intact, such as in pickles? Simply peel and cut some corners. Not bad, still have anticancer properties, though not as good as if destroyed.


Potential Hazards

Not at all easy, using the garlic for prevention and treatment of cancer? The price is also cheap and easily obtainable. But beware, not that garlic may be consumed in vain. Do not think that the more consuming garlic the better the result.

The recommended dose for the consumption of garlic is fresh garlic 4-5 grams / day (about 1-2 cloves). If too much, besides causing odor on the breath and skin, and sometimes cause allergies, digestive disorders (vomiting, diarrhea, irritability, excessive gas production), bronchial asthma, dermatitis, reduces levels of protein and calcium in blood, also reduce sperm production.

Too much garlic increase the risk of bleeding because of its ability to prevent blood clotting. Therefore, in patients who want or have recently undergone surgery, garlic consumption should be limited.

Garlic also improves the working of enzymes in the liver to remove toxins from the body. In healthy people this ability is very useful, but be careful, he can also throw the drugs you eat and chemotherapy drugs. Your treatment becomes futile, is not it? Therefore, if you want to increase the consumption of garlic supplements or use products, consult your doctor.

# Of: BBG sources

Bawang Putih dan berbagai Khasiatnya

Dalam masyarakat modern bawang putih (Allium sativum) dipercaya dapat mencegah serangan jantung, penggumpalan darah, menurunkan kadar kolesterol, tekanan darah, kadar gula darah, mengurangi tukak lambung, penawar racun, pembunuh bakteri/jamur/parasit, pengikat radikal bebas, dan banyak lagi yang lain. Benarkah bumbu masakan sehari-hari ini dapat menyembuhkan kanker juga?

Berbagai studi memang menunjukkan kemampuan bawang putih dalam mencegah dan mengobati kanker, terutama yang disebabkan oleh bahan-bahan kimia berbahaya, seperti kanker prostat, perut, kolorektal (usus dan dubur), payudara, liver, kulit, dan paru-paru.


Bawang Putih Melawan Kanker

Zat-zat aktif dalam bawang putih antara lain vitamin A, B, C, kalsium, potasium, besi, karoten, dan selenium. Yang paling dominan dalam memerangi kanker adalah komponen allyl sulfur seperti diallyl sulfide, diallyl disulfide, diallyl trisulfide, S-allyl cysteine, S-allylmercaptocysteine, allicin, dan ajoene. Zat-zat tersebut mencegah pembentukan dan pengaktifan nitrosamin di dalam tubuh, juga memblokir aflatoxin, azoxymethane, benzo(a)pyrene, dan lain-lain, yang kesemuanya merupakan zat karsinogen (pemicu kanker).
Pada tahap berikutnya komponen-komponen tersebut dapat mencegah mutasi gen, menghambat proliferasi (pertumbuhan/pembelahan) sel-sel kanker, memperbaiki struktur DNA yang rusak, bahkan merangsang sel kanker untuk bunuh diri (apoptosis).

Di sisi lain bawang putih juga berperan sebagai antioksidan, mengeluarkan racun dari dalam tubuh, dan membunuh kuman Helicobacter pylori yang dapat memicu berbagai macam kanker perut.


Cara Mengkonsumsi

Sudah tentu kerja zat-zat aktif bawang putih itu tergantung pada banyak hal, misalnya tanah di mana bawang putih itu tumbuh (berpengaruh pada kadar zat-zat aktif bawang putih), komposisi zat makanan lain yang dikonsumsi bersamaan dengannya, juga cara mempersiapkan dan mengkonsumsi bawang putih itu sendiri. Kombinasi dengan selenium, asam lemak tertentu (misal asam linoleat), dan vitamin A, dapat meningkatkan kemampuan bawang putih untuk menghambat proliferasi dan meningkatkan apoptosis.

Tetapi perlu disadari bahwa proses pengolahan bawang putih dapat mematikan daya kerja zat-zat antikanker itu. Satu menit saja diproses dalam microwave, hilanglah khasiat bawang putih sebagai antikanker. Begitu juga kalau dipanaskan dalam proses pemasakan lain. Jadi bagaimana? Haruskah bawang putih itu ditelan mentah-mentah?

Ternyata sederhana saja. Hancurkan bawang putih (digeprak, diiris tipis, atau diuleg) kemudian biarkan selama 15 menit sebelum dimasak (digunakan sebagai bumbu masak). Dalam waktu 15 menit itu terjadi reaksi kimia yang mengaktifkan zat-zat antikanker golongan allyl sulfur di atas, yang tidak rusak walau dimasak. Tetapi kalau setelah dihancurkan langsung dimasak, reaksi kimia itu tidak terjadi, otomatis khasiat antikankernya hilang.

Kalau mau, bawang putih juga boleh dikonsumsi mentah. Tapi tetap saja harus dihancurkan dulu dan dibiarkan selama 15 menit. Lalu bagaimana kalau bawang akan disajikan utuh, misalnya dalam acar? Cukup kupas kemudian potong sedikit ujung-ujungnya. Lumayan, masih memiliki khasiat antikanker walau tidak sebagus kalau dihancurkan.


Potensi Bahaya

Mudah sekali bukan, menggunakan bawang putih untuk pencegahan dan pengobatan kanker? Harganya murah dan mudah didapat pula. Tetapi waspadalah, bukan berarti bawang putih boleh dikonsumsi sembarangan. Jangan mengira bahwa semakin banyak mengkonsumsi bawang putih semakin baik hasilnya.

Dosis yang disarankan untuk konsumsi bawang putih adalah 4-5 gram bawang putih segar/hari (kira-kira 1-2 siung). Kalau terlalu banyak, selain menimbulkan bau tidak sedap pada nafas dan kulit, kadang menimbulkan alergi, gangguan pencernaan (muntah, diare, iritasi, produksi gas berlebihan), asma bronkial, dermatitis, mengurangi kadar protein dan kalsium dalam darah, juga mengurangi produksi sperma.

Terlalu banyak bawang putih meningkatkan resiko perdarahan karena kemampuannya dalam mencegah pembekuan darah. Karena itu pada penderita yang hendak atau baru saja menjalani pembedahan, konsumsi bawang putih sebaiknya dibatasi.

Bawang putih juga meningkatkan kerja enzim-enzim dalam hati untuk membuang racun dari dalam tubuh. Pada orang sehat kemampuan ini sangat bermanfaat, tetapi hati-hatilah, dia juga bisa membuang obat-obat yang Anda telan dan obat-obat kemoterapi . Pengobatan Anda menjadi sia-sia, bukan? Karena itu, kalau Anda ingin menambah konsumsi bawang putih atau menggunakan produk suplemennya, konsultasilah dulu dengan dokter.

#dari: bbg sumber

Monday, April 5, 2010

Preventing and Overcoming naturally Gall Stones ( Batu Empedu)

Preventing and Overcoming naturally Gall Stones
By: Prof. H. M. Hembing Wijayakusuma

Gallbladder is a small pear-shaped organ located in
right abdomen, and hidden beneath the liver. Gall bladder
stores bile produced by the liver. During the meal, bladder
bile will be contracted (shrunk) so spend a little liquid
brownish-green bile into the small intestine. Bile
useful in the absorption of fat and some vitamins, like vitamin A,
D, E and K. Bile is a mixture of bile acids, proteins,
calcium salts, pigments and substances called fatty cholesterol.
Some of bile entering the small intestine and is passed
excreted in feces.

The main disorders that can arise in the gallbladder is the formation of
stone. This can also occur in the bile ducts. Gallstone
caused by chemical changes in the bile someone. Stone
Bile is formed from the deposition of cholesterol, bilirubin pigments and salts
calcium that hardens, but most of the gall-bladder stones formed
of cholesterol. Incidence of gallstones would be a problem when entering
to one of the channels leading to the small intestine. Sometimes stones
can form in the bile duct itself, for example, because the former
stitches in an operation.

In the gallbladder, the stones can cause inflammation, which is called
kolestitis acute, it is because of the broken stones in the bile
bile ducts that causes pain. Stones through
can be related to the gallbladder in the liver and bile ducts,
thus stopping the flow of bile into the digestive tract. In
Besides, there are other factors that start the process
gallstone formation. These elements can be contained protein
liquid formed at the gall bladder mucus in small quantities. Case
This allows cholesterol, bilirubin, and calcium salts to form
particles such as crystalline solid. Forms from a variety of gallstones,
ie rock formed from cholesterol and shiny yellow
such as oil, which consists of stone can be colored pigment bilirubin
but black or dark brown hard but brittle. The size is also
varies from small pebbles up to registration, but
average diameter of 1 to 2 cm.

Although gallbladder disease show no symptoms, the circumstances
worsening of symptoms is usually caused by an attack at mealtimes
food containing high fat, if a person already suffering from the rock
bile. This occurs because fat triggers the hormone stimulates
gall bladder to contract forcing the stored bile into
into the duodenum which is the way out to the small intestine, if the stone
inhibit bile flow will occur with acute symptoms such as pain
at the upper right abdomen and towards the back, between shoulder and
to the front chest. Other symptoms of colic, belching, flatulence,
indigestion, sweating, nausea, vomiting, chills, body temperature
somewhat high, jaundice (when gallstones block the channel
bile), and feces are brown.

Gallbladder stone disease and usually attacks the bile ducts
people aged between 20 - 50 years. The disease is 6 times more
often occurs in women until age 50 years. On top of that age
same for both sexes. In addition, women who experience more
than 2 times of pregnancy, the risk of getting gallstones more
high. Obesity / overweight has more risk of suffering from gallstones
high compared with those not obese. Several efforts
preventing the formation of gallstones that can be achieved among other things
keep your weight in order to stay normal, lowers cholesterol, and
hard diet to lose weight quickly can stimulate
liver to remove cholesterol in large quantities into the liquid
bile, which can cause gallstones.

To find out if our bodies have used a gallstone
gallstones detector, called ultrasound, namely by
uses sound waves that can not hear the ear. Wave
This sound is directed to the body and reflected waves then processed
computers that will indicate the presence or absence of gallstones. Moreover
gallstones can be detected through X-rays and blood tests
in the laboratory.

For patients with gallstones, the main principle of treatment is
resting gallbladder. Avoid fatty foods because fat
stimulates the gallbladder to work hard. Protein content in
adequate diet from 1 to 1 ½ grams per body weight per day. Calories should also
limited, because most patients with gallstones are also patients
obesity. Raw foods can also cause indigestion
should be avoided.

Natural way that can be used to overcome the gallstones are:

30 grams of fresh leaves nasty shard + 30 grams + 60 grams of fresh bitter
boiled corn with the remaining 600 cc to 300 cc of water, the water
filtered, drunk warm.

60 grams of fresh herbs cat's whiskers + 30 grams + 30 grams of corn cob leaves
meniran fresh boiled with water until the remaining 600 cc 300 cc, water
filtered, drunk warm.

30 grams of fresh leaf spoon + 30 grams of fresh leaves of four o'clock flowers + 100
gram grass roots boiled with water until the remaining 700 ccc 300 cc,
filtered water, drunk warm.

Drink as much as 4 cups of apple juice every day for 5 days. On the day
6th do fasting, and at the breaking of the fast white water + 30
English grams of salt, at 20:00 o'clock drink ½ cup lemon juice + ½ cup
olive oil, stir then drink.
Note: you can use either the traditional way on top,
do regularly 2 times a day. In doing boiling use
enamel pan or pot soil. Fixed a doctor.
Source: hembing


Kandung empedu merupakan organ berbentuk buah pir kecil yang terletak diperut sebelah kanan, dan tersembunyi di bawah hati. Kandung empedu menyimpan cairan empedu yang dihasilkan oleh hati. Selama makan, kandung empedu akan berkontraksi (menciut) sehingga mengeluarkan sedikit cairan empedu yang berwarna hijau kecoklatan ke dalam usus halus. Cairan empedu berguna dalam penyerapan lemak dan beberapa vitamin, seperti vitamin A,D, E, dan K. Empedu merupakan campuran dari asam empedu, protein,
garam-garam kalsium, pigmen dan unsur lemak yang disebut kolesterol.Sebagian dari empedu yang memasuki usus halus akan diteruskan dan dikeluarkan melalui feses.
Kelainan utama yang dapat timbul pada kandung empedu adalah terbentuknyabatu. Hal ini juga dapat terjadi pada saluran empedu. Batu empedu di sebabkan oleh perubahan secara kimiawi pada empedu seseorang. Batu empedu terbentuk dari endapan kolesterol, pigmen bilirubin dan garam kalsium yang mengeras, namun kebanyakan batu kandung empedu terbentuk dari kolesterol. Timbulnya batu empedu akan menjadi masalah bila masuk ke salah satu saluran yang menuju ke usus halus. Kadang-kadang batu
dapat terbentuk dalam saluran empedu itu sendiri, misalnya karena bekas
jahitan pada suatu operasi.Pada kandung empedu, batu dapat menyebabkan peradangan yang disebutkolestitis akut, hal ini karena adanya pecahan batu empedu di dalam
saluran empedu yang menimbulkan rasa sakit. Batu-batu yang melalui kantong empedu dapat menyangkut di dalam hati dan saluran empedu,sehingga menghentikan aliran dari empedu ke dalam saluran pencernaan. Disamping itu, terdapat faktor lainnya yang memulai terjadinya proses pembentukan batu empedu. Unsur ini bisa berupa protein yang terdapat pada cairan lendir yang dibentuk kandung empedu dalam jumlah kecil. Halini memungkinkan kolesterol, bilirubin, dan garam kalsium membentuk partikel seperti kristal padat. Bentuk dari batu empedu bermacam-macam,yaitu batu yang terbentuk dari kolesterol berwarna kuning dan mengkilat seperti minyak, batu yang terdiri dari pigmen bilirubin bisa berwarna hitam tetapi keras atau berwarna coklat tua tetapi rapuh. Ukurannya juga bermacam-macam dari yang kecil hingga sebesar batu kerikil, tetapirata-rata berdiameter 1 - 2 cm. Meskipun penyakit kantong empedu tidak menunjukkan gejala, pada keadaan memburuk gejala yang biasa ditimbulkan adalah serangan pada waktu makan makanan yang mengandung lemak tinggi jika seseorang sudah mengidap batu empedu. Hal ini terjadi karena lemak tersebut memicu hormon merangsang
kantung empedu berkontraksi sehingga memaksa empedu yang tersimpan masuk ke dalam duo denum yaitu jalan keluar menuju usus kecil, jika batu menghambat aliran empedu maka akan timbul gejala seperti sakit yang akut pada sebelah kanan atas perut dan mengarah ke punggung, antara bahu dan ke dada depan. Gejala lainnya yaitu kolik, sendawa, gas dalam perut,gangguan pencernaan, berkeringat, mual, muntah, kedinginan, suhu tubuh agak tinggi, penyakit kuning (bila batu empedu menghalangi saluran empedu), dan feses berwarna coklat.

Penyakit batu kandung empedu dan saluran empedu biasanya menyerang orang-orang berusia antara 20 - 50 tahun. Penyakit ini 6 kali lebih sering terjadi pada wanita sampai usia 50 tahun. Di atas usia tersebut sama untuk kedua jenis kelamin. Selain itu, wanita yang mengalami lebih dari 2 kali kehamilan, maka resiko mendapatkan batu empedu semakin tinggi. Obesitas/kegemukan mempunyai resiko menderita batu empedu lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak obesitas. Beberapa upaya pencegahan terbentuknya batu empedu yang dapat ditempuh antara lain menjaga berat badan agar tetap normal, menurunkan kolesterol, dan mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung serat. Tetapi di lain pihak,diet keras untuk menurunkan berat badan dengan cepat dapat merangsang hati untuk mengeluarkan kolesterol dalam jumlah besar ke dalam cairan empedu, sehigga dapat menimbulkan batu empedu.

Untuk mengetahui apakah tubuh kita terdapat batu empedu digunakan suatualat pendeteksi batu empedu yang disebut ultrasound, yaitu dengan menggunakan gelombang suara yang tidak dapat didengar telinga. Gelombang suara ini diarahkan ke tubuh dan pantulan gelombangnya kemudian diolah komputer yang akan menunjukkan ada atau tidaknya batu empedu. Selain itu batu empedu dapat diketahui melalui foto sinar X dan pemeriksaan darah di laboratorium.

Bagi penderita batu empedu, prinsip utama perawatannya yaitu mengistirahatkan kandung empedu. Hindari makanan berlemak karena lemak merangsang kandung empedu untuk bekerja keras. Kandungan protein dalam diet cukup 1 - 1 ½ gram per berat badan setiap hari. Kalori perlu pula dibatasi, karena kebanyakan penderita batu empedu juga penderita obesitas. Bahan makanan yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan juga harus dihindari. Cara alamiah yang dapat digunakan untuk mengatasi batu empedu yaitu :

30 gram daun keji beling segar + 30 gram sambiloto segar + 60 gram
rambut jagung direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, airnya
disaring, diminum hangat-hangat.

60 gram herba kumis kucing segar + 30 gram tongkol jagung + 30 gram daun
meniran segar direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, airnya
disaring, diminum hangat-hangat.

30 gram daun sendok segar + 30 gram daun kembang pukul empat segar + 100
gram akar alang-alang direbus dengan 700 ccc air hingga tersisa 300 cc,
airnya disaring, diminum hangat-hangat.

Minum jus apel sebanyak 4 gelas setiap hari selama 5 hari. Pada harike-6 lakukan puasa, dan pada saat berbuka puasa minum air putih + 30gram garam inggris, pada pukul 20.00 minum ½ gelas air lemon + ½ gelas minyak zaitun, aduk lalu diminum.
Catatan : anda dapat menggunakan salah satu cara tradisional di atas,lakukan secara teratur sehari 2 kali. Dalam melakukan perebusan gunakanpanci enamel atau periuk tanah. Tetep konsultasi ke dokter.
Sumber: Prof. H. M. Hembing Wijayakusuma

Sunday, April 4, 2010

Papaya (Carica papaya L.)

Papaya (Carica papaya L.)
This one fruit of course very familiar to us.
Almost every day we will find in the market both traditional and modern market, because this fruit does not have a season so every moment can be met.
Maybe for us only to the extent the fruit of papaya fruit are delicious eaten as a dessert after meals or sweets made and in cooking vegetables.
Papaya is known in different names in each area such as: Gedang (Sunda), Kates (Java), kabaelo (Aceh), Botik (Batak), wood Puntu (Lampung), Tower (Dayak), Kapaya (North Sulawesi), Popaya (Gorontalo), Kaliki rianre (Bugis), Papae (Ambon), and Tapaya (Ternate).

It turns out the papaya fruit has a lot of property as a fruit.
But as part of a nutritious include: Leaves, fruits, seeds, sap and roots.

Leaf: Useful aunt7uk treat fever, malaria, give give, ASI does not smoothly, stomach pains and maintenance of the body after childbirth.
Ripe fruit is useful to overcome constipation, indigestion, and ulcers.
Mengkal fruit is useful to: overcome a little milk, enlarged liver, and spleen, skin diseases, and smooth the skin.
Seeds useful for: Overcoming worms and gray hair prematurely.
Sap to treat warts, Ekzema, acne and burns.
Its root is useful for treating kidney stones and snake bites.

Pepaya( Carica papaya L)
Buah yang satu ini tentunya sangat tidak asing lagi bagi kita.
Hampir setiap hari kita bisa menjumpainya di pasar baik yang tradisional maupun pasar modern, karena buah ini tidak memiliki musim jadi setiap saat bisa di jumpai.
Mungkin bagi kita Buah pepaya hanya sebatas buah saja yang enak dimakan sebagai makanan pencuci mulut sehabis makan atau dibuat manisan dan di masak sayur.
Pepaya dikenal dalam Nama yang berbeda di daerah masing masing seperti: Gedang (Sunda),Kates (Jawa), Kabaelo (Aceh), Botik (Batak), Punti kayu ( Lampung), Gadang (Dayak), Kapaya (Sulawesi Utara), Popaya (Gorontalo),Kaliki rianre (Bugis), Papae (Ambon) dan Tapaya (Ternate).

Ternyata buah pepaya memiliki banyak khasiat sebagai buah.
adapun bagian bagian yang berkhasiat antara lain : Daun, Buah, Biji, Getah dan akar.

Daun: Berguna untuk mengobati demam, malaria, beri beri, ASI tidak lancar, perut mulas dan pemeliharaan badan setelah melahirkan.

Buah yang matang berguna untuk mengatasi sembelit, gangguan pencernaan, dan sariawan.

Buah yang mengkal berguna untuk : mengatasi ASI yang sedikit, pembesaran hati, dan Limpa, penyakit kulit, serta menghaluskan kulit.

Bijinya berguna untuk : Mengatasi cacingan dan ubanan sebelum waktunya.

Getah untuk mengobati Kutil,Ekzema, Jerawat dan luka bakar.

Akarnya berguna untuk mengobati batu ginjal dan gigitan ular.




Source: Holistic Herbal concoction conquered the disease by Prof. HM Hembing Wijaya Kusuma

Bisnis Herbal

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...